• SMAN 16 GARUT
  • Terbentuknya Pelajar yang Berkarakter, Berinovasi & Berani Unggul (BERKIBAR)

Transformasi Pendidikan Berlandaskan Filosofi KHD

Ki Hadjar Dewantara atau bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat bukanlah satu-satunya pemikir pendidikan yang memiliki visi tentang Pendidikan yang Memerdekakan. Ada beberapa pemikir pendidikan lain yang selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan menjadi acuan dalam menerapkan konsep Pendidikan yang Memerdekakan.

Dalam postingan ini, saya akan membahas tentang dua pemikir pendidikan, yaitu Maria Montessori dan Friedrich Frobel, serta metode yang mereka kembangkan, yaitu Metode Montessori dan Taman Anak Frobel.

Maria Montessori adalah seorang dokter Italia yang merancang Metode Montessori, sebuah pendekatan pendidikan yang menekankan pada pengembangan individu secara keseluruhan, baik fisik, mental, emosional, maupun sosial.

Metode Montessori didasarkan pada prinsip bahwa setiap anak adalah makhluk yang aktif dalam mencari pengetahuan dan memiliki potensi untuk belajar secara mandiri. Oleh karena itu, pendidikan harus menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk belajar dengan cara yang paling alami dan efektif.

Metode Montessori mengajarkan anak untuk memilih dan memanipulasi bahan-bahan belajar secara bebas, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari. Anak diajarkan untuk mandiri dan memperoleh kemampuan untuk memecahkan masalah secara kreatif dan inovatif.

Dalam hal ini, pemikiran Montessori sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan harus membebaskan individu dari segala bentuk penindasan dan menjadikan mereka sebagai manusia yang mandiri.

Sedangkan, Friedrich Frobel adalah seorang pendidik Jerman yang terkenal dengan konsep Taman Anak Frobel. Konsep ini berfokus pada pengembangan potensi individu, khususnya anak-anak, melalui kegiatan bermain dan eksplorasi. Frobel memandang anak sebagai makhluk yang aktif dan kreatif, yang dapat mengembangkan kemampuan mereka melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermain.

Taman Anak Frobel menawarkan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendukung, di mana anak-anak dapat bermain dan eksplorasi dengan bebas. Frobel percaya bahwa kegiatan bermain dapat membantu anak-anak mengembangkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan sosial mereka.

Kita ketahui, konsep ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung.

Terkait dengan konteks pendidikan, "hanya menuntun" dapat diartikan sebagai konsep bahwa tugas utama seorang pendidik adalah hanya memberikan arahan atau panduan kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendekatan ini mungkin memandang siswa sebagai penerima pasif dari informasi dan keterampilan yang diajarkan oleh guru, tanpa memperhatikan perbedaan individualitas siswa.

Dalam pendekatan ini, siswa cenderung menjadi objek yang hanya diarahkan, bukan sebagai subjek yang aktif dalam proses pembelajaran.

Analogi petani sering digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara untuk menjelaskan tentang kodrat anak. Menurut Ki Hadjar Dewantara, setiap anak memiliki kodrat yang berbeda-beda seperti tanaman yang tumbuh di sawah.

Seperti halnya petani yang tidak dapat memaksakan tanaman tumbuh dengan cara yang sama, pendidik juga tidak bisa memaksakan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan cara yang sama. Setiap tanaman memerlukan perhatian dan perawatan yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing tanaman, begitu juga setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, pendidik harus mampu memahami dan menghargai karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak, serta memberikan perhatian dan perawatan yang sesuai agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam analogi petani, Ki Hadjar Dewantara juga menekankan pentingnya lingkungan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, begitu juga dengan anak. Lingkungan yang baik dan mendukung akan membantu anak tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Oleh karena itu, pendidik harus menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung untuk anak-anak, di mana mereka dapat merasa aman, nyaman, dan termotivasi untuk belajar.

Dalam rangka transformasi pendidikan berlandaskan filosofi KHD, perlu dilakukan upaya untuk mengembangkan sistem pendidikan yang inklusif, memberdayakan, dan berkelanjutan, serta memperkuat karakter nasionalisme dan kebangsaan.

Selain itu, perlu juga memperhatikan aspek teknologi dan informasi dalam proses pembelajaran, serta menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk memajukan kemajuan bangsa dan negara secara berkelanjutan.

Filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan memiliki kaitan erat dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila. Pendidikan yang memerdekakan menempatkan manusia sebagai subjek utama, bukan sebagai objek yang dipaksa untuk menerima informasi tanpa kritis.

Dalam pendidikan ini, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami materi dengan cara yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan mereka.

Sementara itu, tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila adalah untuk menciptakan generasi muda yang memiliki kesadaran sebagai warga negara yang baik dan berkarakter Pancasila. Profil ini mencakup keterampilan dan pengetahuan akademik, keterampilan sosial, moral dan etika, serta keterampilan berpikir kritis dan kreatif.

Demikian postingan pada kesempatan kali ini, kurang lebihnya silakan berkomentar yang konstruktif pada kolom yang disediakan. Saya meyakini, melalui diskusi yang sehat, maka kita dapat memetik nilai-nilai kebenaraan yang terdapat di sekitar kita.

 

Komentar

Ilmu tanpa eksekusi hanya sebatas imajinasi tapi ilmu dibarengi eksekusi adalah kunci dari keberhasilan

Meningkatkan kreatifitas dan melatih berpikir kritis

Meningkatkan kreatifitas dan melatih berpikir kritis

Mantap

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Seberapa Pentingkah Materi Prasyarat Matematika? Inilah Alasannya !

Matematika, sebagai salah satu mata pelajaran yang sering dianggap menantang bagi banyak siswa, membutuhkan pemahaman yang kuat dalam materi prasyarat sebelum mempelajari konsep yang le

05/04/2023 14:27 - Oleh Ipung Saepulrohman, S.Pd. - Dilihat 2983 kali
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematik melalui Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS)

Oleh : Ipung Saepulrohman, S.Pd* Salah satu hal yang berperan penting dalam menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara adalah pendidikan. Namun, menurut laporan United Na

27/10/2022 12:52 - Oleh Ipung Saepulrohman, S.Pd. - Dilihat 690 kali